KUALITAS
AIR SUNGAI DAWIR (TULUNGAGUNG)
BERDASARKAN BIOINDIKATOR MAKROINVERTEBRATA-KIMIA
BERDASARKAN BIOINDIKATOR MAKROINVERTEBRATA-KIMIA
DISUSUN OLEH:
1.
ALIF
WIBOWO NIS 7202
2.
BAGUS
SYAFI’UL HUDA NIS 7241
3.
ELINDA
TRIA WATI NIS
7288
GURU PEMBIMBING:
Dra. ENDAH WINARNI
“Disusun untuk diikutkan
dalam lomba pemantauan kualitas air oleh JKPKA”
UPTD
SMA NEGERI 1 NGUNUT
Jl.
Raya Sumberingin Kidul, Ngunut – Tulungagung
Telp.
(0355) 395884
KUALITAS
AIR SUNGAI DAWIR (TULUNGAGUNG)
BERDASARKAN BIOINDIKATOR MAKROINVERTEBRATA-KIMIA
BERDASARKAN BIOINDIKATOR MAKROINVERTEBRATA-KIMIA
DISUSUN OLEH:
1.
ALIF
WIBOWO NIS
7202
2.
BAGUS
SYAFI’UL HUDA NIS
7241
3.
ELINDA
TRIA WATI NIS
7288
GURU PEMBIMBING:
Dra. ENDAH WINARNI
“Disusun untuk diikutkan dalam
lomba pemantauan kualitas air oleh JKPKA”
UPTD
SMA NEGERI 1 NGUNUT
Jl. Raya Sumberingin Kidul, Ngunut – Tulungagung
Telp.
(0355) 395884
ABSTRAK
Titik berat pemantauan kualitas air sungai selama ini
adalah parameter fisika-kimia air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
kualitas air Sungai Dawir di Kabupaten Tulungagung dengan teknik biomonitoring
menggunakan bioindikator makroinvertebrata, menggunakan parameter kekayaan
taksa (Taxa Richness), persentase Ephemeroptera, Plecoptera dan Trichoptera
(%EPT), dan Family Biotic Index ditambah dengan pH dan suhu air. Pengambilan contoh
biota dilakukan pada tiga stasiun sampling yang ditentukan dengan
mempertimbangkan ragam pemanfaatan sempadan sungai dan gangguan hidrolik
sungai. Satu diantara tiga stasiun diletakkan pada bagian sungai yang
ekosistemnya diperkirakan masih baik sebagai pembanding. Pengambilan contoh
biota dilakukan dengan handnet pada bagian kanan, kiri dan tengah sungai.
Contoh biota diidentifikasi sampai tingkat famili. Berdasarkan berbagai
parameter biotik yang diperiksa, Sungai Dawir mengalami pencemaran sedang.
Kata
kunci : biomonitoring, kekayaan taksa, family biotic index, pH, suhu.
KATA PENGANTAR
Kami panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa
yang telah mencurahkan nikmat serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan
karya tulis yang berjudul “KUALITAS AIR SUNGAI DAWIR (TULUNGAGUNG) BERDASARKAN BIOINDIKATOR
MAKRO INVERTEBRATA-KIMIA” ini. Ucapan terima kasih juga tak lupa kami sampaikan kepada :
- Dra. Endah Winarni selaku guru pembimbing dalam membuat karya tulis kami;
- serta tak lupa kami haturkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu tetapi tidak mengurangi rasa hormat kami.
Karya tulis ini berisikan penjelasan cara mengetahui kualitas air Sungai Dawir, mulai dari
pengambilan data sampai analisis data.
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan karya
tulis ini masih terdapat banyak kekurangan dan keterbatasan.
Oleh karena itu kami menerima kritik maupun saran yang bersifat membangun
untuk lebih meningkatkan kualitas karya tulis ini dan sebagai batu loncatan
agar penulis dapat membuat karya tulis yang lebih berkualitas dimasa yang akan
datang.
Demikian yang dapat kami sampaikan, kami berharap karya tulis ini dapat menambah wawasan dan
menjadi sumber referensi bagi pihak yang membutuhkannya.
Tulungagung, 30 Oktober 2013
Penulis
DAFTAR
ISI
ABSTRAK............................................................................................................ ii
KATA PENGANTAR.......................................................................................... iii
DAFTAR ISI........................................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
1.1.
LATAR
BELAKANG................................................................................ 1
1.2.
RUMUSAN
MASALAH........................................................................... 2
1.3.
MANFAAT
PENELITIAN........................................................................ 2
1.4.
TUJUAN
PENELITIAN............................................................................ 2
1.5.
SASARAN.................................................................................................. 2
1.6.
RUANG
LINGKUP KEGIATAN............................................................. 2
BAB II TINJAUAN AREA PEMANTAUAN................................................... 3
2.1.
KONDISI
GOEGRAFIS............................................................................ 3
2.2.
KONDISI
TOPOGRAFIS.......................................................................... 3
2.3.
JENIS
TANAH........................................................................................... 3
2.4.
KONDISI
IKLIM....................................................................................... 4
2.5.
KONDISI
HIDROLOGI............................................................................ 4
BAB III METODE PELAKSANAA PEMANTAUAN..................................... 5
3.1
MENENTUKAN
LOKASI PENGAMBILAN SAMPLING................... 5
3.2
WAKTU
PELAKSANAAN PENGAMBILAN DAN PENELITIAN SAMPLING 6
3.3
PERALATAN
PENGAMBILAN DAN PEMANTAUAN SAMPLING 6
3.4
TEKNIK
PENGAMBILAN SAMPLING................................................. 6
3.5
SORTASI
DAN IDENTIFIKASI SAMPLING........................................ 7
3.6
CARA
PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA.................................. 8
BAB IV HASIL PEMANTAUAN...................................................................... 13
BAB V PEMBAHASAN..................................................................................... 16
BAB VI PENUTUP............................................................................................. 17
6.1
KESIMPULAN........................................................................................... 17
6.2
SARAN....................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 18
LAMPIRAN......................................................................................................... 20
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sungai
merupakan jaringan alur-alur pada permukaan bumi yang terbentuk secara alami,
mulai dari bentuk kecil di bagian hulu sampai besar di bagian hilir. Sungai
berfungsi menampung curah hujan dan mengalirkannya ke laut. Berdasarkan
fungsinya yaitu mengalirkan air, sungai disebut pula sebagai drainase alam.
Seiring
dengan meningkatnya jumlah penduduk dan diiringi dengan meningkatnya kebutuhan
manusia menyebabkan peningkatan kuantitas produksi. Supaya dapat memenuhi
peningkatan kuantitas produksi, maka kebutuhan penggunaan sumber daya alam
juga akan meningkat, dan pada akhirnya menimbulkan beban pada lingkungan
seperti turunnya daya dukung lingkungan.
Sungai
memiliki sifat dinamis, maka dalam pemanfaatan potensinya dapat mengurangi
nilai manfaat sungai dan membahayakan lingkungan secara luas. Bencana banjir
yang diakibatkan oleh penyempitan palung sungai karena adanya pembuangan
sampah, penumpukan sedimen dan intervensi pemukiman liar. Pencemaran akibat
pembuangan limbah cair domestik, pertanian dan industri menyebabkan turunnya
kualitas air sungai.
Sebagai
contohnya turunnya daya dukung sungai dimana badan air sungai sering digunakan
sebagai media akhir pembuangan limbah dari segala kegiatan manusia. Dengan
demikian bertambahnya jumlah kegiatan atau industri kecil serta berkembangnya
hasil produksi di Kecamatan Kalidawir-Tulungagung tentunya akan beresiko
terhadap turunnya daya dukung sungai.
Salah
satu upaya pengelolaan kualitas air yang penting adalah melaksanakan
pemantauan kualitas air guna untuk memberi informasi faktual tentang kondisi kualitas air masa
sekarang, kecenderungan masa lalu dan prediksi perubahan lingkungan masa
depan. Data hasil pemantauan dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan,
penyusunan kebijakan ataupun pengambilan keputusan dan evaluasi kebijakan
pengelolaan lingkungan dalam peraturan perundangan lingkungan hidup di daerah.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana kualitas air di Sungai Dawir?
1.3 MANFAAT PENELITIAN
1. Meningkatkan
pengetahuan dan menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.
2. Mendapatkan
data dasar tentang status lingkungan daerah aliran sungai.
3. Mengidentifikasi
kecenderungan perubahan kualitas air.
1.4 TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui
kualitas air di Sungai Dawir.
2. Memberikan informasi bagi pemerintah daerah Kalidawir
tentang kualitas air Sungai Dawir.
1.5 SASARAN
Sasaran
kegiatan pemantauan kualitas air ini adalah Sungai Dawir yang dibagi menjadi 3
titik lokasi pengamatan yaitu :
1. Desa
Betak (DB);
2. Desa
Tunggangri (DT);
3. Desa
Kalidawir (DK).
1.6 RUANG LINGKUP KEGIATAN
Kegiatan
pemantauan kualitas air sungai di Kecamatan Kalidawir-Tulungagung meliputi
kegiatan :
1. penentuan tujuan pemantauan;
2. penentuan lokasi pemantauan;
3. pelaksanaan sampling;
4. pelaksanaan analisis, pengolahan dan interpretasi
data (menggunakan
metode biotilik dan
kimia);
5. penyusunan laporan.
BAB
II
TINJAUAN AREA PEMANTAUAN
TINJAUAN AREA PEMANTAUAN
2.1
KONDISI
GEOGRAFIS
Kecamatan Kalidawir
terletak di selatan Kabupaten Tulungagung, terbentang pada 111º 52ʹ 30ʺ - 112º
0ʹ 0ʺ bujur timur dan 8º 7ʹ 30ʺ - 8º 15ʹ 0ʺ lintang selatan dengan batas
wilayah sebagai berikut:
·
sebelah
utara berbatasan dengan wilayah Kecamatan Sumbergempol, Kecamatan Ngunut dan
Kecamatan Boyolangu;
·
sebelah
timur berbatasan dengan wilayah Kecamatan Ngunut, Kecamatan Rejotangan dan
Kecamatan Pucanglaban;
·
sebelah
selatan berbatasan dengan laut lepas Samudra Indonesia;
·
sebelah
barat berbatasan dengan wilayah Kecamatan Tanggunggunung, Kecamatan Campurdarat
dan Kecamatan Boyolangu.
2.2
KONDISI
TOPOGRAFIS
Wilayah Kecamatan
Kalidawir merupakan dataran tinggi dengan ketinggian antara 90 - 270 m di atas
permukaan air laut dengan kondisi permukaan tanah wilayah utara berupa dataran
rendah yang dikelilingi dataran yang lebih tinggi dari pada daerah tersebut. Dengan
demikian Kecamatan Kalidawir mempunyai permukaan tanah yang ketinggiannya
beragam. Keadaan tersebut menyebabkan daerah tersebut rawan untuk terjadi
banjir ketika memasuki musim hujan ataupun jika terjadi hujan lebat.
2.3
JENIS
TANAH
Jenis tanah yang terdapat
di wilayah Kecamatan Kalidawir bagian utara sebagian besar terdiri dari aluvial
dan grumosol. Kedua jenis tanah tersebut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
·
permeabilitas
tanah umumnya lambat;
·
daya
penahan air cukup baik;
·
kepekaan
tanah terhadap erosi sedang;
·
produktifitas
tanah beragam dari rendah sampai sedang.
Dengan ciri-ciri
jenis tanah tersebut, tanah di Kecamatan Kalidawir bagian utara cukup baik
untuk usaha pertanian, karena tanah tersebut terdiri dari endapan tanah liat
dan pasir halus bewarna hitam kelabu.
2.4
KONDISI
IKLIM
Kecamatan Kalidawir
beriklim
tropis dan mempunyai curah hujan rata-rata pertahun kurang dari 2000 mm
pertahun atau rata-rata sebesar 1.682 mm/tahun
dengan bulan kering selama 6 bulan. Angin
berhembus dengan
kecepatan rata-rata antara 15-20 knots ke arah barat laut. Sedangkan temperatur
rata-rata berkisar antara 28º-31ºC.
2.5
KONDISI
HIDROLOGI
Keadaan air pada musim kemarau rata-rata mempunyai debit
yang sedikit menurun jika dibandingkan dengan musim penghujan, sedangkan kedalaman
sungai pada musim penghujan berkisar antara 2-8 meter. Adapun sumber air minum
penduduk kebanyakan menggunakan air yang berasal dari sumber dengan kedalaman
antara 3-12 meter. Kualitas air relatif cukup baik dan tawar, sedangkan untuk
musim kemarau persediaan air tanah cenderung menurun namun demikian dirasakan
masih cukup dan sumur tidak sampai menjadi kering kehabisan air.
Wilayah Kecamatan Kalidawir terdapat beberapa sungai
salah satunya Sungai Dawir, yang memiliki manfaat cukup besar bagi kehidupan
penduduk, khususnya untuk keperluan irigasi pertanian.
Pada mulanya sungai tersebut selain dimanfaatkan untuk
jaringan irigasi, pada selanjutnya perkembangan selanjutnya berfungsi sebagai
drainase.
BAB
III
METODE PELAKSANAAN PEMANTAUAN
METODE PELAKSANAAN PEMANTAUAN
Penentuan segmen
sungai dan lokasi bertujuan agar diperoleh sampel air yang dapat mewakili,
sehingga dapat mememuhi tujuan pemantauan yang telah ditargetkan. Dalam
penentuan lokasi perlu dipertimbangan hal-hal sebagai berikut:
1.
proses
yang mempengaruhi kualitas air;
2.
pengetahuan
tentang geografi, penggunaan air dan pembuangan limbah;
3.
kemungkinan
variasi musim dan variasi lokasi terhadap paramater yang diukur;
4.
meminimalkan
interferensi manusia yang bukan bagian dari program pemantauan;
5.
menghindari
dari struktur di badan air yang dapat mengganggu kondisi kimia bila
keberadaannya bukan fokus utama pemantauan;
6.
lokasi
harus diidentifikasi dengan tepat sehingga pengulangan pengambilan sampel dapat
dilakukan kembali.
3.1 MENENTUKAN LOKASI PENGAMBILAN
SAMPLING
Agar diperoleh
gambaran mengenai kualitas air sungai maka penentuan lokasi di sungai dilakukan
dengan pertimbangan bahwa sungai pada lokasi tersebut betul-betul homogen atau
tercampur dengan baik. Untuk memverifikasi bahwa pada lokasi tersebut sudah
terjadi percampuan dengan baik, maka perlu dilakukan pemeriksaan homogenitas
dengan cara pengambilan beberapa sampel pada titik sepanjang lebar dan kedalaman
sungai untuk dianalisa beberapa parameter yang khas seperti pH dan temperatur.
Jika hasil yang diperoleh tidak berbeda secara signifikan, maka suatu titik
lokasi dapat ditentukan di tengah aliran atau di titik yang mudah pengambilannya.
Bila hasil analisis berbeda jauh dari satu titik dengan yang lainnya, maka
perlu diambil sampel dari beberapa titik yang dialiri aliran. Umumnya semakin
banyak sampel yang dikumpulkan akan semakin mewakili.
3.2 WAKTU PELAKSANAAN PENGAMBILAN DAN
PENELITIAN SAMPLING
Pengambilan sampling dilakukan pada tanggal 23 Oktober
2013, yang dilakukan selama 180 menit dengan 3
kali pengambilan pada setiap stasiun yang masing-masing 60 menit,
dimulai pada pukul 14.00-17.00 WIB.
3.3 PERALATAN PENGAMBILAN DAN
PEMANTAUAN SAMPLING
Pengambilan sampling membutuhkan peralatan yang sederhana
yang mudah diperoleh dimana saja. Beberapa peralatan yang dibutuhkan antara
lain:
·
jaring
bertongkat;
·
nampan
sortasi;
·
kotak
bersekat;
·
pipet
plastik;
·
pinset/penjepit;
·
pH
meter/indikator universal;
·
lup
·
thermometer.
3.4 TEKNIK PENGAMBILAN SAMPLING
Pengambilan sampel
dimulai dari titik 1 (paling hilir), kemudian lanjutkan ke titik 2 dan 3 ke
arah hulu sungai. Lakukan pengambilan sampel dengan kombinasi teknik kicking
dan jabbing pada bagian tepi sungai yang tidak terlalu deras, tidak dalam dan
ditumbuhi tanaman air. Masing-masing titik sebaiknya memiliki kondisi substrat
dasar dan jenis vegetasi yang berbeda untuk mendapatkan beragam jenis hewan
biotilik. Teknik kicking dilakukan di sungai dangkal, pengamat masuk ke dalam
sungai meletakkan jaring di depan dengan mulut jaring menghadap arah hulu atau
datangnya aliran air, kemudian mengaduk-aduk
substrat di depan jaring selama 1 menit atau 5 meter dengan menggerakkan
kaki memutar untuk merangsang hewan yang bersembunyi di dasar sungai agar
keluar dan terhanyut masuk ke dalam jaring.
Teknik jabbing dilakukan di tepi sungai dangkal atau dalam dengan cara
meletakkan jaring di permukaan dasar sungai, kemudian bergerak maju ke arah
hulu atau sumber datangnya air sambil menyapukan jaring hingga menyentuh
permukaan dasar sungai sepanjang 5 meter, terutama di bawah tanaman air.
Setelah melakukan kicking atau jabbing, angkat jaring ke atas permukaan air dan
celupkan kantong jaring beberapa kali ke dalam air hingga air yang keluar dari
kantong jaring menjadi bening dan tidak berlumpur. Lumpur dalam sampel akan
menghambat proses sortasi dan identifikasi makroinvertebrata.
3.5 SORTASI DAN IDENTIFIKASI SAMPLING
Setelah pengambilan
sampel selesai dilakukan, maka langkah selanjutnya yaitu penyeleksian dan
pengamatan individu berdasakan family.
Tuangkan sampel
dari kantong jaring ke dalam nampan plastik dan siramkan sedikit air untuk
membersihkan sisa sampel dalam jaring dan memudahkan pengambilan
makroinvertebrata dari substrat dalam sampel. Lakukan sortasi dengan cara
mengambil hewan yang bergerak di dalam nampan plastik dan masukkan dalam kotak
bersekat sesuai dengan jenisnya. Ikan, berudu katak dan serangga darat tidak
termasuk dalam biotilik, lepaskan kembali ke sungai jika ditemukan dalam
sampel. Usahakan untuk mengambil seluruh hewan biotilik dalam sampel, terutama
yang berukuran kecil dan kelompok serangga Ephemeroptera, Plecoptera dan
Trichoptera (EPT) yang merupakan hewan yang sensitif terhadap penurunan
kualitas air.
3.6 CARA PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
Parameter pemeriksaan habitat meliputi kondisi substrat
dasar sungai, vegetasi bantaran sungai, tingkat sedimentasi, adanya modifikasi
sungai, dan aktivitas manusia di sekitar sungai. Pengamatan habitat dilakukan
dalam jarak pandang 100 meter dan meliputi gambaran umum dalam radius lapang
pandang habitat yang diamati, kemudian menetapkan memberi skor untuk setiap
parameter habitat. Hasil pengamatan dicatat dalam Tabel 1 Pemeriksaan Kesehatan
Habitat. Penentuan tingkat kesehatan habitat mengikuti ketentuan tabel berikut.
Tabel 1. Penilaian Kesehatan Habitat Sungai dan
Bantaran
|
|
Rata-Rata Skor
|
Tingkat Kesehatan
Habitat
|
2,4 – 3,0
|
Sehat, menyediakan kondisi habitat yang beragam dan stabil
untuk mendukung kehidupan biota
|
1,7 – 2,3
|
Kurang Sehat, menyediakan habitat kurang
bervariasi dan kurang stabil untuk mendukung kehidupan biota
|
1,0 – 1,6
|
Tidak Sehat, menyediakan habitat tidak
bervariasi dan tidak stabil untuk mendukung kehidupan biota
|
Lakukan
identifikasi makroinvertebrata menggunakan lembar panduan identifikasi biotilik,
hitung dan catat jumlah individu dari masing-masing jenis famili serta skor biotilik
dari masing-masing jenis famili biotilik dalam tabel pemeriksaan biotilik. Penilaian
kualitas air sungai dengan biotilik dilakukan dengan menghitung 4 parameter biotilik,
yaitu keragaman jenis famili, keragaman jenis EPT, persentase kelimpahan EPT
dan Indeks biotilik, yang diberikan skor penilaian
berdasarkan kriteria penilaian untuk 4 kategori kualitas air. Rata-rata
hasil penghitungan mengindikasikan kondisi kualitas air sungai yang diperiksa
dengan mengikuti ketentuan dalam tabel berikut ini.
Tabel 2. Penilaian Kualitas Air Sungai dengan Biotilik
|
|||||
Parameter
|
Skor
|
SKOR
Penilaian
|
|||
4
|
3
|
2
|
1
|
||
Keragaman Jenis Famili
|
>13
|
10-13
|
7-9
|
<7
|
|
Keragaman Jenis EPT
|
>7
|
3-7
|
1-2
|
0
|
|
% Kelimpahan EPT
|
>40%
|
>15 – 40 %
|
>0 – 15 %
|
0 %
|
|
Indeks BIOTILIK
|
3,3 – 4,0
|
2,6 – 3,2
|
1,8 – 2,5
|
1,0 – 1,7
|
|
Total Skor
|
|||||
Skor Rata-Rata (Total Skor / 4)
|
|||||
Kriteria Kualitas Air
|
Tidak
Tercemar
|
Tercemar
Ringan
|
Tercemar
Sedang
|
Tercemar
Berat
|
|
SKOR Rata-rata
|
3,3 – 4,0
|
2,6 – 3,2
|
1,8 – 2,5
|
1,0 – 1,7
|
|
TABEL 3. PEMERIKSAAN KESEHATAN
HABITAT SUNGAI
|
|||||
No
|
PARAMETER
|
SKOR
|
Skor
|
||
1
|
2
|
3
|
|||
1.
|
Komposisi substrat di tepi sungai
|
Lebih dari 50% substrat terdiri dari kombinasi pasir
dan batuan beragam ukuran, sesuai untuk koloni invertebrata dan diatom;
terdapat potongan kayu yang lapuk di dalam air dengan campuran substrat
batuan stabil
|
10-50% substrat terdiri dari kombinasi batu dan batu
beragam ukuran; beberapa bagian substrat terganggu, tergerus atau dipindahkan
dari sungai
|
>90% substrat didominasi oleh padas, pasir, atau
lumpur; sebagian besar substrat tergerus atau dipindahkan dari sungai,
habitat untuk koloni invertebrata dan diatom sangat sedikit
|
|
2.
|
Substrat tepi sungai yang terpendam lumpur sedimentasi
|
<25% batuan terpendam atau tertutupi lumpur halus;
batuan dapat diangkat dengan mudah dari dasar sungai
|
25-75% substrat terpendam dalam lumpur halus; batuan
harus ditarik untuk mengangkatnya dari dasar sungai
|
lebih dari 75% substrat erpendam dalam lumpur halus;
batuan harus dicongkel untuk mengangkatnya dari dasar sungai
|
|
3.
|
Fluktuasi debit air sungai
|
Di bagian hulu tidak ada bendungan atau penyudetan
aliran sungai, kalaupun ada skalanya kecil; perbedaan lebar penampang sungai
teraliri air dan ketinggian muka air sungai saat musim hujan dan kemarau <
25%
|
perbedaan lebar penampang sungai teraliri air dan
ketinggian muka air sungai saat musim hujan dan kemarau > 25%-75
|
perbedaan lebar penampang sungai teraliri air dan
ketinggian muka air sungai saat musim hujan dan kemarau >75%, saat musim
kemarau sungai mengering meninggalkan cekungan genangan air di beberapa
bagian
|
|
4.
|
Apakah ada perubahan aliran karena pengerukan atau
pelurusan?
|
Tidak ada pelurusan atau pengerukan batu dan pasir dari
dasar sungai
|
Pelurusan cukup luas, 20-50% sungai diplengseng; atau
pengerukan material dasar sungai mengganggu 10% habitat dasar sungai
|
Tebing sungai dibatasi plengsengan beton, lebih dari
50% bagian sungai diplengseng; atau pengerukan material dasar sungai
mengganggu lebih dari 10% habitat dasar sungai
|
|
5.
|
Bagaimana stabilitas tebing sungai sebelah KIRI ?
|
Tebing sungai stabil; tidak ada atau terdapat sedikit
bekas erosi atau tebing longsor di tepi sungai; kurang dari 30% tebing sungai
mengalami erosi
|
Kurang stabil; terdapat 30-60% bagian tebing sungai
mengalami erosi, kemungkinan terjadi erosi tinggi pada musim hujan
|
Tidak stabil; banyak bagian tebing sungai mengalami
erosi, tebing yang terkikis terlihat pada bagian sungai yang lurus dan
berkelok, bekas gerusan membentuk cekungan pada tebing, > 60% tebing
sungai memiliki bekas erosi
|
|
6.
|
Bagaimana stabilitas tebing sungai sebelah KANAN ?
|
Lihat no.5
|
Lihat no.5
|
Lihat no.5
|
|
7.
|
Berapa lebar vegetasi sempadan sungai sebelah KIRI
|
lebar sempadan sungai >15 meter; aktivitas manusia
tidak berdampak nyata pada sempadan sungai alami
|
lebar sempadan sungai 6-15 meter; aktivitas manusia
berdampak pada sempadan sungai
|
lebar sempadan sungai < 6 meter, tidak ada atau
sedikit sekali tumbuhan alami di sempadan sungai karena tingginya aktivitas
manusia
|
|
8.
|
Berapa lebar vegetasi sempadan sungai sebelah KANAN
|
Lihat no.7
|
Lihat no.7
|
Lihat no.7
|
|
9.
|
Apa saja aktivitas manusia di
sekitar sungai dan berapa besar dampaknya?
|
Sangat sedikit aktivitas di sekitar sungai dan sempadan
sungai; tidak ada atau sedikit aktivitas pertanian, penggembalaan ternak,
pengambilan vegetasi untuk pakan ternak, penambangan pasir dan batu,
pembuangan limbah cair, pembuangan sampah, aktivitas perkapalan, dll
|
Cukup banyak aktivitas manusia di sungai dan sempadan
sungai; <5% sungai dan bantaran
sungai rusak karena dampak aktivitas pertanian, peternakan, pembuangan
limbah, penambangan pasir dan batu, pembuangan sampah, perkapalan, dll
|
Sangat banyak aktivitas manusia di sungai dan sempadan
sungai; >5% sungai dan bantaran
sungai rusakkarena dampak aktivitas pertanian, peternakanpembuangan limbah,
penambangan pasir dan batu, pembuangan sampah, perkapalan, d
|
|
10.
|
Apakah ada aktivitas manusia
pada radius 2-10 km di bagian hulu lokasi pengamatan?
|
Sedikit aktivitas manusia yang menimbulkan gangguan di
wilayah hulu; kurang dari 5% bantaran sungai di kawasan hulu memiliki
aktivitas penambangan pasir dan batu skala besar, aktivitas pembuangan limbah
industri, permukiman, penebangan hutan, pembuangan sampah, dll.
|
Cukup banyak aktivitas manusia yang menimbulkan
gangguan di wilayah hulu; 5-20% bantaran sungai kawasan hulu memiliki
aktivitas penambangan pasir dan batu skala besar, aktivitas pembuangan limbah
industri, permukiman, penebangan hutan, pembuangan sampah, dll.
|
Sangat banyak aktivitas manusia yang menimbulkan
gangguan di wilayah hulu; lebih dari 20% bantaran sungai kawasan hulu
memiliki aktivitas penambangan pasir dan batu skala besar, aktivitas
pembuangan limbah industri, permukiman, penebangan hutan, pembuangan sampah,
dan lain-lain
|
|
Jumlah Skor
|
|||||
RATA-RATA SKOR
KESEHATAN HABITAT (Jumlah Skor/10)
|
|||||
TABEL 4. PEMERIKSAAN BIOTILIK
|
||||||
No.
|
Nama Family
|
Skor Biotilik
(ti)
|
Jumlah Individu
(ni)
|
ti × ni
|
keterangan
|
|
EPT
|
||||||
Subtotal EPT (n EPT)
|
||||||
Non-EPT
|
||||||
Subtotal Non-EPT
|
||||||
JUMLAH
|
N=
|
X=
|
||||
Persentase Kelimpahan EPT (n
EPT/N)
|
||||||
INDEKS BIOTILIK (X/N)
|
||||||
BAB
IV
HASIL PEMANTAUAN
HASIL PEMANTAUAN
Kondisi Sungai
Dawir dalam area studi dan parameter biotilik-kimia yang diukur di lapangan
hampir sama pada setiap stasiun (Tabel 1). Gangguan yang tampak di lapangan
adalah limbah domestik dan organik.
Stasiun
|
Skor Rata-Rata
|
Lebar (m)
|
Kedalaman (cm)
|
Substrat
|
Suhu (°C)
|
pH
|
Penggunaan Lahan dan Kerapatan Tutupan Sempadan (dalam
jarak 200 m)
|
Gangguan Hidraulik Sungai
|
|
kanan1)
|
kiri1)
|
||||||||
DB
|
2,25
|
13
|
400
|
Pasir, kerikil
|
31
|
8,1
|
·
Jalan
·
Lalu lintas ternak
·
Kebun ternak
|
·
Jalan
·
Kebun campuran
|
-
|
DT
|
2
|
13
|
400
|
Lumpur, tanah liat
|
31
|
8,7
|
·
Jalan
·
Semak
|
·
Jalan
·
Ladang
|
·
Bendung
|
DK
|
2,5
|
13
|
400
|
Pasir, kerikil
|
31
|
8,2
|
·
Jalan
·
Tutupan 100%
|
·
Kebun campuran
·
Tutupan 100%
|
-
|
Dari tiga stasiun
sampling, terkumpul 295 ekor makroinvertebrata. Dari jumlah tersebut
terindetifiksi 32 family makroinvertebrata. Ada tiga family yang selalu
dijumpai pada seluruh stasiun, yaitu satu kelompok udang-udangan Atyidae, satu
kelompok serangga Leptophlebidae dan satu kelompok kerang-kerangan, yaitu
Thiaridae (Mesogastropoda). Kekayaan family setiap stasiun dapat dilihat pada
Gambar 1.
Diantara
makroinvertebrata yang dijumpai terdapat beberpa family yang masuk ke dalam
order Ephemeroptera, Plecoptera dan Trichoptera. Dari jumlah keseluruhan
individu sampel, dapat ditentukan persentase relatif jumlah makroinvertebrata
yang termasuk ke dalam order EPT terhadap keseluruhan sampel seperti terlihat
pada Gambar 2.
Berdasarkan jumlah
masing-masing family makroinvertebrata dan nilai toleransi terhadap pencamaran
dapat ditentukan Family Biotic Index
(FBI). FBI Sungai Dawir untuk setiap stasiun tercantum pada Gambar 3.
BAB
V
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
Penelitian ini
memperlihatkan bahwa kualitas air baik ada di Desa Betak dan Desa Kalidawir,
sedangkan kualitas air yang paling rendah ada di Desa Tunggangri. Desa Betak
dan Desa Kalidawir memiliki kekayaan family yang tinggi, sedangkan di Desa
Tunggangri memiliki 6 family. Peningkatan keanekaragaman biota berkorelasi
dengan kesehatan ekosistem. Antara titik pengamatan Desa Betak, Desa Tunggangri
sampai Desa Kalidawir, kondisi stasiun, subtrat, parameter biotilik dan kimia
air hampir sama. Perbedaannya adalah dari segi gangguan hidraulik dan kerapatan
tutupan. Untuk kedua faktor tersebut DK dan DB mewakili kondisi ekosistem yang
bagus. Sedangkan DT terdapat pengauh bendungan/dam.
Baik parameter
kekayaan taksa maupun EPT sama-sama menunjukkan bahwa DT memiliki kualitas air
dan ekosistem yang paling rendah, kondisi air yang kotor dengan ditandai bau
dan warna yang berbeda dari biasanya. Pada stasiun DB dan DK, kualitas air
cenderung bagus. Dengan terjadinya perubahan faktor kimia dan biologi air,
jenis biota air mempunyai daya toleransi yang tinggi akan megalami peningkatan
dan penyebaran yang luas. Organisme yang toleran dapat tumbuh dan berkembang
dalam kisaran kondisi lingkungan yang kualitasnya buruk. Sebaliknya, jenis
biota air yang tidak toleran akan tersebar pada perairan tertentu.
BAB
VI
PENUTUP
PENUTUP
6.1 KESIMPULAN
Ekosistem Sungai
Dawir cenderung terganggu dan kualitas airnya tercemar pada level
sedang/menengah dengan kekayaan family makroinvertebrata bervariasi antara 6-32
family dengan rata-rata EPT dan FBI 2,197.
Pada titik di Desa Tunggangri, memiliki kondisi yang terburuk daripada titik
lokasi yang lain berdasarkan semua parameter baik bioindikator
makroinvertebrata maupun kimia air
6.2 SARAN
Upaya
pencegahan pencemaran sungai :
a.
melakukan gerakan kebersihan sungai
tercemar secara berkala, membersihan
segmen sungai tercemar minimal 2 kali setahun;
b.
pemasangan papan himbauan sepanjang
bantaran sungai dan peletakkan tempat sampah;
c.
melakukan normalisasi alur sungai,
mengeruk sedimen sungai, mendirikan blok penyaring sampah;
d.
mendirikan demplot peningkatan kualitas
air secara vegetatif pada sempadan dan bantaran sungai;
e.
mengevaluasi hasil kegiatan
pemantauan serta menganalisis kualitas air sungai dengan baku mutu yang telah
ditetapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Ecological Observation and
Wetland Conservation (ECOTON). 2013. PANDUAN
BIOTILIK UNTUK PEMANTAUAN KESEHATAN DAERAH ALIRAN SUNGAI “Selamatkan Sungai
Kita Sekarang”. Gresik. ECOTON.
Geocities. 2013. GAMBARAN UMUM KABUPATEN TULUNGAGUNG
BERSINAR, KOTA MANDIRI, JAWA TIMUR. (Online). (http://www.geocities.ws/kota_tulungagung/gambaran_umum.htm.
jam 20:45 WIB 21/10/2013)
Hasyim, Hisyam. 2012. Tentang Kabupaten Tulungagung. (Online).
(http://fh2p3kdok.blogspot.com/2012/12/tentang-kabupaten-tulungagung.html.
jam 15:45 WIB 25/10/2013).
Kantor Lingkungan Hidup Kota
Mojokerto. 2008. LAPORAN PEMANTAUAN
KUALITAS AIR SUNGAI DI KOTA MOJOKETO. Mojokerto. Kantor Lingkungan Hidup
Kota Mojokerto.
Lelawaty Simanora, Rotua. dkk.
(Kementrian Lingkungan Hidup). 2012. KUALITAS
AI SUNGAI BONE (GORONTALO) BERDASARKAN BIOINDIKATOR MAKROINVERTEBRATA.
Gorontalo. Kementrian Lingkungan Hidup.
Nasution, Emelia. 2013. Laporan Praktikum: Pengukuran Kualitas Air.
(Online). (http://laporanpraktikumemel.blogspot.com/2013/03/pengukuran-kualitas-air.html. Jam 04:59 17/10/2013)
Rahmawati, Wahyu. 2012 Iklim Di Tulungagung. (Online). (http://id.scribd.com/doc/79825581/TA-iklim.
jam 04:43 WIB 24/10/2013).
Sains, Insan. 2007. Mengukur Kualitas Air. (Online). (http://insansainsprojects.wordpress.com/2007/11/30/_-mengukur-kualitas-air/. Jam 03:39 WIB 20/10/2013)
Setyo Rini, Daru. dkk.
(Biotilik Team). 2009 PANDUAN BIOTILIK
Biomonitoring Kesehatan Sungai dengan Makroinvertebrata Bagi Sekolah Tingkat
Pertama dan Menengah. Sidoarjo. Biotilik Team.
Sigit, Ridzki. 2013. Biotilik: Memantau Kesehatan Sungai Lewat
Cara Sederhana Namun Efektif. (Online). (http://www.mongabay.co.id/2013/05/18/biotilik-memantau-kesehatan-sungai-lewat-cara-sederhana-namun-efektif/. Jam 03:38 20/10/2013)
Smart Marketing. 2013. Indikator (Tanda) Air Tanah Tercemar. (Online).
(http://filterpenyaringair.com/indikator-tanda-air-tanah-yang-tercemar/. Jam 14:28 WIB 18/10/2013 )
Yahoo. 2013. Jenis Tanah. (Online). (http://answers.yahoo.com/question/index?qid=20130402143226AAs6a55. Jam 19:55 WIB 28/10/2013).
Yusuf, Tohari. 2013. Karangtalun. (Online). (http://tohariyusuf.blogspot.com/p/karangtalun_4879.html.
jam 15:46 WIB 25/10/2013).
LAMPIRAN
Lampiran Data
Peserta:
1.
nama : Alif Wibowo;
tempat dan tanggal lahir :
Jember, 04 Februari 1996;
alamat :
Ds. Betak, Kec. Kalidawir, Kab. Tulungagung;
sekolah :
SMA Negeri 1 Ngunut;
NIS :
7202;
2.
nama : Bagus Syafi’ul Huda;
tempat dan tanggal lahir :
Tulungagung, 12 Desember 1995;
alamat :
Ds. Aryojeding, Kec. Rejotangan, Kab. Tulungagung;
sekolah :
SMA Negeri 1 Ngunut;
NIS :
7241;
3.
nama : Elinda Triawati;
tempat dan tanggal lahir :
Tulungagung, 22 Januari 1996;
alamat :
Ds. Mirigambar, Kec. Sumbergempol, Kab. Tulungagung;
sekolah :
SMA Negeri 1 Ngunut;
NIS :
7288.
Lampiran Data Guru
Pembimbing:
nama : Dra. Endah Winarni;
tempat dan tanggal lahir :
Tulungagung, 03 Agustus 1963;
NIP :
19630803 198903 2 010.
DENAH PENGAMBILAN
SAMPEL DI KECAMATAN KALIDAWIR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar