Kamis, 20 Maret 2014

Karya Tulis Ilmiah Remaja "KUALITAS AIR SUNGAI DAWIR (TULUNGAGUNG) BERDASARKAN BIOINDIKATOR MAKROINVERTEBRATA-KIMIA"



KUALITAS AIR SUNGAI DAWIR (TULUNGAGUNG)
BERDASARKAN BIOINDIKATOR MAKROINVERTEBRATA-KIMIA
 
DISUSUN OLEH:
1.                  ALIF WIBOWO                                           NIS 7202
2.                  BAGUS SYAFI’UL HUDA                         NIS 7241
3.                  ELINDA TRIA WATI                                 NIS 7288
GURU PEMBIMBING:
Dra. ENDAH WINARNI
“Disusun untuk diikutkan dalam lomba pemantauan kualitas air oleh JKPKA”
UPTD SMA NEGERI 1 NGUNUT
Jl. Raya Sumberingin Kidul, Ngunut – Tulungagung
Telp. (0355) 395884


KUALITAS AIR SUNGAI DAWIR (TULUNGAGUNG)
BERDASARKAN BIOINDIKATOR MAKROINVERTEBRATA-KIMIA
 
DISUSUN OLEH:
1.                  ALIF WIBOWO                                           NIS 7202
2.                  BAGUS SYAFI’UL HUDA                         NIS 7241
3.                  ELINDA TRIA WATI                                 NIS 7288
GURU PEMBIMBING:
Dra. ENDAH WINARNI
“Disusun untuk diikutkan dalam lomba pemantauan kualitas air oleh JKPKA”
UPTD SMA NEGERI 1 NGUNUT
Jl. Raya Sumberingin Kidul, Ngunut – Tulungagung
Telp. (0355) 395884



ABSTRAK
Titik berat pemantauan kualitas air sungai selama ini adalah parameter fisika-kimia air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air Sungai Dawir di Kabupaten Tulungagung dengan teknik biomonitoring menggunakan bioindikator makroinvertebrata, menggunakan parameter kekayaan taksa (Taxa Richness), persentase Ephemeroptera, Plecoptera dan Trichoptera (%EPT), dan Family Biotic Index ditambah dengan pH dan suhu air. Pengambilan contoh biota dilakukan pada tiga stasiun sampling yang ditentukan dengan mempertimbangkan ragam pemanfaatan sempadan sungai dan gangguan hidrolik sungai. Satu diantara tiga stasiun diletakkan pada bagian sungai yang ekosistemnya diperkirakan masih baik sebagai pembanding. Pengambilan contoh biota dilakukan dengan handnet pada bagian kanan, kiri dan tengah sungai. Contoh biota diidentifikasi sampai tingkat famili. Berdasarkan berbagai parameter biotik yang diperiksa, Sungai Dawir mengalami pencemaran sedang. 
Kata kunci : biomonitoring, kekayaan taksa, family biotic index, pH, suhu.


KATA PENGANTAR
Kami panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah mencurahkan nikmat serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan karya tulis yang berjudul “KUALITAS AIR SUNGAI DAWIR (TULUNGAGUNG) BERDASARKAN BIOINDIKATOR MAKRO INVERTEBRATA-KIMIA ini. Ucapan terima kasih juga tak lupa kami sampaikan kepada :
  1. Dra. Endah Winarni selaku guru pembimbing dalam membuat karya tulis kami;
  2. serta tak lupa kami haturkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu  tetapi tidak mengurangi rasa hormat kami.
Karya tulis ini berisikan penjelasan cara mengetahui kualitas air Sungai Dawir, mulai dari pengambilan data sampai analisis data.
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan karya tulis ini masih terdapat banyak kekurangan dan keterbatasan. Oleh karena itu kami menerima kritik maupun saran yang bersifat membangun untuk lebih meningkatkan kualitas karya tulis ini dan sebagai batu loncatan agar penulis dapat membuat karya tulis yang lebih berkualitas dimasa yang akan datang.
Demikian yang dapat kami sampaikan, kami berharap karya tulis ini dapat menambah wawasan dan menjadi sumber referensi bagi pihak yang membutuhkannya.
Tulungagung, 30 Oktober 2013


                                                                                                      Penulis



DAFTAR ISI
ABSTRAK............................................................................................................ ii
KATA PENGANTAR.......................................................................................... iii
DAFTAR ISI........................................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
1.1.   LATAR BELAKANG................................................................................ 1
1.2.   RUMUSAN MASALAH........................................................................... 2
1.3.   MANFAAT PENELITIAN........................................................................ 2
1.4.   TUJUAN PENELITIAN............................................................................ 2
1.5.   SASARAN.................................................................................................. 2
1.6.   RUANG LINGKUP KEGIATAN............................................................. 2
BAB II TINJAUAN AREA PEMANTAUAN................................................... 3
2.1.   KONDISI GOEGRAFIS............................................................................ 3
2.2.   KONDISI TOPOGRAFIS.......................................................................... 3
2.3.   JENIS TANAH........................................................................................... 3
2.4.   KONDISI IKLIM....................................................................................... 4
2.5.   KONDISI HIDROLOGI............................................................................ 4
BAB III METODE PELAKSANAA PEMANTAUAN..................................... 5
3.1     MENENTUKAN LOKASI PENGAMBILAN SAMPLING................... 5
3.2     WAKTU PELAKSANAAN PENGAMBILAN DAN PENELITIAN SAMPLING            6
3.3     PERALATAN PENGAMBILAN DAN PEMANTAUAN SAMPLING 6
3.4     TEKNIK PENGAMBILAN SAMPLING................................................. 6
3.5     SORTASI DAN IDENTIFIKASI SAMPLING........................................ 7
3.6     CARA PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA.................................. 8
BAB IV HASIL PEMANTAUAN...................................................................... 13
BAB V PEMBAHASAN..................................................................................... 16
BAB VI PENUTUP............................................................................................. 17
6.1     KESIMPULAN........................................................................................... 17
6.2     SARAN....................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 18
LAMPIRAN......................................................................................................... 20


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Sungai merupakan jaringan alur-alur pada permukaan bumi yang terbentuk secara alami, mulai dari bentuk kecil di bagian hulu sampai besar di bagian hilir. Sungai berfungsi menampung curah hujan dan mengalirkannya ke laut. Berdasarkan fungsinya yaitu mengalirkan air, sungai disebut pula sebagai drainase alam.
Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan diiringi dengan meningkatnya kebutuhan manusia menyebabkan peningkatan kuantitas produksi. Supaya dapat memenuhi peningkatan kuantitas produksi, maka kebutuhan penggunaan sumber daya alam juga akan meningkat, dan pada akhirnya menimbulkan beban pada lingkungan seperti turunnya daya dukung lingkungan.
Sungai memiliki sifat dinamis, maka dalam pemanfaatan potensinya dapat mengurangi nilai manfaat sungai dan membahayakan lingkungan secara luas. Bencana banjir yang diakibatkan oleh penyempitan palung sungai karena adanya pembuangan sampah, penumpukan sedimen dan intervensi pemukiman liar. Pencemaran akibat pembuangan limbah cair domestik, pertanian dan industri menyebabkan turunnya kualitas air sungai.
Sebagai contohnya turunnya daya dukung sungai dimana badan air sungai sering digunakan sebagai media akhir pembuangan limbah dari segala kegiatan manusia. Dengan demikian bertambahnya jumlah kegiatan atau industri kecil serta berkembangnya hasil produksi di Kecamatan Kalidawir-Tulungagung tentunya akan beresiko terhadap turunnya daya dukung sungai.
Salah satu upaya pengelolaan kualitas air yang penting adalah melaksanakan pemantauan kualitas air guna untuk memberi informasi faktual tentang kondisi kualitas air masa sekarang, kecenderungan masa lalu dan prediksi perubahan lingkungan masa depan. Data hasil pemantauan dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan, penyusunan kebijakan ataupun pengambilan keputusan dan evaluasi kebijakan pengelolaan lingkungan dalam peraturan perundangan lingkungan hidup di daerah.
1.2  RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana kualitas air di Sungai Dawir?

1.3  MANFAAT PENELITIAN
1.      Meningkatkan pengetahuan dan menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.
2.      Mendapatkan data dasar tentang status lingkungan daerah aliran sungai.
3.      Mengidentifikasi kecenderungan perubahan kualitas air.

1.4  TUJUAN PENELITIAN
1.      Mengetahui kualitas air di Sungai Dawir.
2.      Memberikan  informasi bagi pemerintah daerah Kalidawir tentang kualitas air Sungai Dawir.

1.5  SASARAN
Sasaran kegiatan pemantauan kualitas air ini adalah Sungai Dawir yang dibagi menjadi 3 titik lokasi pengamatan yaitu :
1.      Desa Betak (DB);
2.      Desa Tunggangri (DT);
3.      Desa Kalidawir (DK).

1.6  RUANG LINGKUP KEGIATAN
Kegiatan pemantauan kualitas air sungai di Kecamatan Kalidawir-Tulungagung meliputi kegiatan :
1.      penentuan tujuan pemantauan;
2.      penentuan lokasi pemantauan;
3.      pelaksanaan sampling;
4.      pelaksanaan analisis, pengolahan dan interpretasi data (menggunakan metode biotilik dan kimia);
5.      penyusunan laporan.



BAB II
TINJAUAN AREA PEMANTAUAN
2.1    KONDISI GEOGRAFIS
Kecamatan Kalidawir terletak di selatan Kabupaten Tulungagung, terbentang pada 111º 52ʹ 30ʺ - 112º 0ʹ 0ʺ bujur timur dan 8º 7ʹ 30ʺ - 8º 15ʹ 0ʺ lintang selatan dengan batas wilayah sebagai berikut:
·         sebelah utara berbatasan dengan wilayah Kecamatan Sumbergempol, Kecamatan Ngunut dan Kecamatan Boyolangu;
·         sebelah timur berbatasan dengan wilayah Kecamatan Ngunut, Kecamatan Rejotangan dan Kecamatan Pucanglaban;
·         sebelah selatan berbatasan dengan laut lepas Samudra Indonesia;
·         sebelah barat berbatasan dengan wilayah Kecamatan Tanggunggunung, Kecamatan Campurdarat dan Kecamatan Boyolangu.

2.2    KONDISI TOPOGRAFIS
Wilayah Kecamatan Kalidawir merupakan dataran tinggi dengan ketinggian antara 90 - 270 m di atas permukaan air laut dengan kondisi permukaan tanah wilayah utara berupa dataran rendah yang dikelilingi dataran yang lebih tinggi dari pada daerah tersebut. Dengan demikian Kecamatan Kalidawir mempunyai permukaan tanah yang ketinggiannya beragam. Keadaan tersebut menyebabkan daerah tersebut rawan untuk terjadi banjir ketika memasuki musim hujan ataupun jika terjadi hujan lebat.

2.3    JENIS TANAH
Jenis tanah yang terdapat di wilayah Kecamatan Kalidawir bagian utara sebagian besar terdiri dari aluvial dan grumosol. Kedua jenis tanah tersebut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
·         permeabilitas tanah umumnya lambat;
·         daya penahan air cukup baik;
·         kepekaan tanah terhadap erosi sedang;
·         produktifitas tanah beragam dari rendah sampai sedang.
Dengan ciri-ciri jenis tanah tersebut, tanah di Kecamatan Kalidawir bagian utara cukup baik untuk usaha pertanian, karena tanah tersebut terdiri dari endapan tanah liat dan pasir halus bewarna hitam kelabu.

2.4    KONDISI IKLIM
Kecamatan Kalidawir beriklim tropis dan mempunyai curah hujan rata-rata pertahun kurang dari 2000 mm pertahun atau rata-rata sebesar 1.682 mm/tahun dengan bulan kering selama 6 bulan. Angin berhembus dengan kecepatan rata-rata antara 15-20 knots ke arah barat laut. Sedangkan temperatur rata-rata berkisar antara 28º-31ºC.

2.5    KONDISI HIDROLOGI
Keadaan air pada musim kemarau rata-rata mempunyai debit yang sedikit menurun jika dibandingkan dengan musim penghujan, sedangkan kedalaman sungai pada musim penghujan berkisar antara 2-8 meter. Adapun sumber air minum penduduk kebanyakan menggunakan air yang berasal dari sumber dengan kedalaman antara 3-12 meter. Kualitas air relatif cukup baik dan tawar, sedangkan untuk musim kemarau persediaan air tanah cenderung menurun namun demikian dirasakan masih cukup dan sumur tidak sampai menjadi kering kehabisan air.
Wilayah Kecamatan Kalidawir terdapat beberapa sungai salah satunya Sungai Dawir, yang memiliki manfaat cukup besar bagi kehidupan penduduk, khususnya untuk keperluan irigasi pertanian.
Pada mulanya sungai tersebut selain dimanfaatkan untuk jaringan irigasi, pada selanjutnya perkembangan selanjutnya berfungsi sebagai drainase.


BAB III
METODE PELAKSANAAN PEMANTAUAN
Penentuan segmen sungai dan lokasi bertujuan agar diperoleh sampel air yang dapat mewakili, sehingga dapat mememuhi tujuan pemantauan yang telah ditargetkan. Dalam penentuan lokasi perlu dipertimbangan hal-hal sebagai berikut:
1.      proses yang mempengaruhi kualitas air;
2.      pengetahuan tentang geografi, penggunaan air dan pembuangan limbah;
3.      kemungkinan variasi musim dan variasi lokasi terhadap paramater yang diukur;
4.      meminimalkan interferensi manusia yang bukan bagian dari program pemantauan;
5.      menghindari dari struktur di badan air yang dapat mengganggu kondisi kimia bila keberadaannya bukan fokus utama pemantauan;
6.      lokasi harus diidentifikasi dengan tepat sehingga pengulangan pengambilan sampel dapat dilakukan kembali.

3.1  MENENTUKAN LOKASI PENGAMBILAN SAMPLING
Agar diperoleh gambaran mengenai kualitas air sungai maka penentuan lokasi di sungai dilakukan dengan pertimbangan bahwa sungai pada lokasi tersebut betul-betul homogen atau tercampur dengan baik. Untuk memverifikasi bahwa pada lokasi tersebut sudah terjadi percampuan dengan baik, maka perlu dilakukan pemeriksaan homogenitas dengan cara pengambilan beberapa sampel  pada titik sepanjang lebar dan kedalaman sungai untuk dianalisa beberapa parameter yang khas seperti pH dan temperatur. Jika hasil yang diperoleh tidak berbeda secara signifikan, maka suatu titik lokasi dapat ditentukan di tengah aliran atau di titik yang mudah pengambilannya. Bila hasil analisis berbeda jauh dari satu titik dengan yang lainnya, maka perlu diambil sampel dari beberapa titik yang dialiri aliran. Umumnya semakin banyak sampel yang dikumpulkan akan semakin mewakili.

3.2  WAKTU PELAKSANAAN PENGAMBILAN DAN PENELITIAN SAMPLING
Pengambilan sampling dilakukan pada tanggal 23 Oktober 2013, yang dilakukan selama 180 menit dengan 3  kali pengambilan pada setiap stasiun yang masing-masing 60 menit, dimulai pada pukul 14.00-17.00 WIB.

3.3  PERALATAN PENGAMBILAN DAN PEMANTAUAN SAMPLING
Pengambilan sampling membutuhkan peralatan yang sederhana yang mudah diperoleh dimana saja. Beberapa peralatan yang dibutuhkan antara lain:
·         jaring bertongkat;
·         nampan sortasi;
·         kotak bersekat;
·         pipet plastik;
·         pinset/penjepit;
·         pH meter/indikator universal;
·         lup
·         thermometer.

3.4  TEKNIK PENGAMBILAN SAMPLING
Pengambilan sampel dimulai dari titik 1 (paling hilir), kemudian lanjutkan ke titik 2 dan 3 ke arah hulu sungai. Lakukan pengambilan sampel dengan kombinasi teknik kicking dan jabbing pada bagian tepi sungai yang tidak terlalu deras, tidak dalam dan ditumbuhi tanaman air. Masing-masing titik sebaiknya memiliki kondisi substrat dasar dan jenis vegetasi yang berbeda untuk mendapatkan beragam jenis hewan biotilik. Teknik kicking dilakukan di sungai dangkal, pengamat masuk ke dalam sungai meletakkan jaring di depan dengan mulut jaring menghadap arah hulu atau datangnya aliran air, kemudian mengaduk-aduk  substrat di depan jaring selama 1 menit atau 5 meter dengan menggerakkan kaki memutar untuk merangsang hewan yang bersembunyi di dasar sungai agar keluar dan terhanyut masuk ke dalam jaring.  Teknik jabbing dilakukan di tepi sungai dangkal atau dalam dengan cara meletakkan jaring di permukaan dasar sungai, kemudian bergerak maju ke arah hulu atau sumber datangnya air sambil menyapukan jaring hingga menyentuh permukaan dasar sungai sepanjang 5 meter, terutama di bawah tanaman air. Setelah melakukan kicking atau jabbing, angkat jaring ke atas permukaan air dan celupkan kantong jaring beberapa kali ke dalam air hingga air yang keluar dari kantong jaring menjadi bening dan tidak berlumpur. Lumpur dalam sampel akan menghambat proses sortasi dan identifikasi makroinvertebrata.

3.5  SORTASI DAN IDENTIFIKASI SAMPLING
Setelah pengambilan sampel selesai dilakukan, maka langkah selanjutnya yaitu penyeleksian dan pengamatan individu berdasakan family.
Tuangkan sampel dari kantong jaring ke dalam nampan plastik dan siramkan sedikit air untuk membersihkan sisa sampel dalam jaring dan memudahkan pengambilan makroinvertebrata dari substrat dalam sampel. Lakukan sortasi dengan cara mengambil hewan yang bergerak di dalam nampan plastik dan masukkan dalam kotak bersekat sesuai dengan jenisnya. Ikan, berudu katak dan serangga darat tidak termasuk dalam biotilik, lepaskan kembali ke sungai jika ditemukan dalam sampel. Usahakan untuk mengambil seluruh hewan biotilik dalam sampel, terutama yang berukuran kecil dan kelompok serangga Ephemeroptera, Plecoptera dan Trichoptera (EPT) yang merupakan hewan yang sensitif terhadap penurunan kualitas air.




3.6  CARA PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
Parameter pemeriksaan habitat meliputi kondisi substrat dasar sungai, vegetasi bantaran sungai, tingkat sedimentasi, adanya modifikasi sungai, dan aktivitas manusia di sekitar sungai. Pengamatan habitat dilakukan dalam jarak pandang 100 meter dan meliputi gambaran umum dalam radius lapang pandang habitat yang diamati, kemudian menetapkan memberi skor untuk setiap parameter habitat. Hasil pengamatan dicatat dalam Tabel 1 Pemeriksaan Kesehatan Habitat. Penentuan tingkat kesehatan habitat mengikuti ketentuan tabel berikut.
Tabel 1. Penilaian Kesehatan Habitat Sungai dan Bantaran
Rata-Rata Skor
Tingkat Kesehatan Habitat
2,4 – 3,0
Sehat, menyediakan kondisi habitat yang beragam dan stabil untuk mendukung kehidupan biota 
1,7 – 2,3
Kurang Sehat, menyediakan habitat kurang bervariasi dan kurang stabil untuk mendukung kehidupan biota
1,0 – 1,6
Tidak Sehat, menyediakan habitat tidak bervariasi dan tidak stabil untuk mendukung kehidupan biota

Lakukan identifikasi makroinvertebrata menggunakan lembar panduan identifikasi biotilik, hitung dan catat jumlah individu dari masing-masing jenis famili serta skor biotilik dari masing-masing jenis famili biotilik dalam tabel pemeriksaan biotilik. Penilaian kualitas air sungai dengan biotilik dilakukan dengan menghitung 4 parameter biotilik, yaitu keragaman jenis famili, keragaman jenis EPT, persentase kelimpahan EPT dan Indeks biotilik, yang diberikan skor penilaian  berdasarkan kriteria penilaian untuk 4 kategori kualitas air. Rata-rata hasil penghitungan mengindikasikan kondisi kualitas air sungai yang diperiksa dengan mengikuti ketentuan dalam tabel berikut ini.







Tabel 2. Penilaian Kualitas Air Sungai dengan Biotilik
Parameter
Skor
SKOR
Penilaian
4
3
2
1
Keragaman Jenis Famili
>13
10-13
7-9
<7

Keragaman Jenis EPT
>7
3-7
1-2
0

% Kelimpahan EPT
>40%
>15 – 40 %
>0 – 15 %
0 %

Indeks BIOTILIK
3,3 – 4,0
2,6 – 3,2
1,8 – 2,5
1,0 – 1,7

Total Skor

Skor Rata-Rata (Total Skor / 4)

Kriteria Kualitas Air
Tidak
Tercemar
Tercemar
Ringan
Tercemar
Sedang
Tercemar
Berat

SKOR Rata-rata
3,3 – 4,0
2,6 – 3,2
1,8 – 2,5
1,0 – 1,7


TABEL 3. PEMERIKSAAN KESEHATAN  HABITAT SUNGAI
No
PARAMETER
SKOR
Skor
1
2
3
1.

Komposisi substrat di tepi sungai
Lebih dari 50% substrat terdiri dari kombinasi pasir dan batuan beragam ukuran, sesuai untuk koloni invertebrata dan diatom; terdapat potongan kayu yang lapuk di dalam air dengan campuran substrat batuan stabil
10-50% substrat terdiri dari kombinasi batu dan batu beragam ukuran; beberapa bagian substrat terganggu, tergerus atau dipindahkan dari sungai
>90% substrat didominasi oleh padas, pasir, atau lumpur; sebagian besar substrat tergerus atau dipindahkan dari sungai, habitat untuk koloni invertebrata dan diatom sangat sedikit

2.
Substrat tepi sungai yang terpendam lumpur sedimentasi
<25% batuan terpendam atau tertutupi lumpur halus; batuan dapat diangkat dengan mudah dari dasar sungai
25-75% substrat terpendam dalam lumpur halus; batuan harus ditarik untuk mengangkatnya dari dasar sungai
lebih dari 75% substrat erpendam dalam lumpur halus; batuan harus dicongkel untuk mengangkatnya dari dasar sungai

3.
Fluktuasi debit air sungai
Di bagian hulu tidak ada bendungan atau penyudetan aliran sungai, kalaupun ada skalanya kecil; perbedaan lebar penampang sungai teraliri air dan ketinggian muka air sungai saat musim hujan dan kemarau < 25%
perbedaan lebar penampang sungai teraliri air dan ketinggian muka air sungai saat musim hujan dan kemarau > 25%-75
perbedaan lebar penampang sungai teraliri air dan ketinggian muka air sungai saat musim hujan dan kemarau >75%, saat musim kemarau sungai mengering meninggalkan cekungan genangan air di beberapa bagian

4.
Apakah ada perubahan aliran karena pengerukan atau pelurusan?
Tidak ada pelurusan atau pengerukan batu dan pasir dari dasar sungai
Pelurusan cukup luas, 20-50% sungai diplengseng; atau pengerukan material dasar sungai mengganggu 10% habitat dasar sungai
Tebing sungai dibatasi plengsengan beton, lebih dari 50% bagian sungai diplengseng; atau pengerukan material dasar sungai mengganggu lebih dari 10% habitat dasar sungai

5.
Bagaimana stabilitas tebing sungai sebelah KIRI ?
Tebing sungai stabil; tidak ada atau terdapat sedikit bekas erosi atau tebing longsor di tepi sungai; kurang dari 30% tebing sungai mengalami erosi
Kurang stabil; terdapat 30-60% bagian tebing sungai mengalami erosi, kemungkinan terjadi erosi tinggi pada musim hujan
Tidak stabil; banyak bagian tebing sungai mengalami erosi, tebing yang terkikis terlihat pada bagian sungai yang lurus dan berkelok, bekas gerusan membentuk cekungan pada tebing, > 60% tebing sungai memiliki bekas erosi

6.
Bagaimana stabilitas tebing sungai sebelah KANAN ?
Lihat no.5
Lihat no.5
Lihat no.5

7.
Berapa lebar vegetasi sempadan sungai sebelah KIRI
lebar sempadan sungai >15 meter; aktivitas manusia tidak berdampak nyata pada sempadan sungai alami
lebar sempadan sungai 6-15 meter; aktivitas manusia berdampak pada sempadan sungai
lebar sempadan sungai < 6 meter, tidak ada atau sedikit sekali tumbuhan alami di sempadan sungai karena tingginya aktivitas manusia

8.
Berapa lebar vegetasi sempadan sungai sebelah KANAN
Lihat no.7
Lihat no.7
Lihat no.7

9.
Apa saja aktivitas manusia di sekitar sungai dan berapa besar dampaknya?
Sangat sedikit aktivitas di sekitar sungai dan sempadan sungai; tidak ada atau sedikit aktivitas pertanian, penggembalaan ternak, pengambilan vegetasi untuk pakan ternak, penambangan pasir dan batu, pembuangan limbah cair, pembuangan sampah, aktivitas perkapalan, dll
Cukup banyak aktivitas manusia di sungai dan sempadan sungai; <5% sungai dan  bantaran sungai rusak karena dampak aktivitas pertanian, peternakan, pembuangan limbah, penambangan pasir dan batu, pembuangan sampah, perkapalan, dll
Sangat banyak aktivitas manusia di sungai dan sempadan sungai; >5% sungai dan  bantaran sungai rusakkarena dampak aktivitas pertanian, peternakanpembuangan limbah, penambangan pasir dan batu, pembuangan sampah, perkapalan, d

10.
Apakah ada aktivitas manusia pada radius 2-10 km di bagian hulu lokasi pengamatan?
Sedikit aktivitas manusia yang menimbulkan gangguan di wilayah hulu; kurang dari 5% bantaran sungai di kawasan hulu memiliki aktivitas penambangan pasir dan batu skala besar, aktivitas pembuangan limbah industri, permukiman, penebangan hutan, pembuangan sampah, dll.
Cukup banyak aktivitas manusia yang menimbulkan gangguan di wilayah hulu; 5-20% bantaran sungai kawasan hulu memiliki aktivitas penambangan pasir dan batu skala besar, aktivitas pembuangan limbah industri, permukiman, penebangan hutan, pembuangan sampah, dll. 
Sangat banyak aktivitas manusia yang menimbulkan gangguan di wilayah hulu; lebih dari 20% bantaran sungai kawasan hulu memiliki aktivitas penambangan pasir dan batu skala besar, aktivitas pembuangan limbah industri, permukiman, penebangan hutan, pembuangan sampah, dan lain-lain


Jumlah Skor


RATA-RATA SKOR KESEHATAN HABITAT (Jumlah Skor/10)


TABEL 4. PEMERIKSAAN BIOTILIK
No.
Nama Family
Skor Biotilik (ti)
Jumlah Individu (ni)
ti × ni
keterangan
EPT


















Subtotal EPT (n EPT)



Non-EPT


















Subtotal Non-EPT



JUMLAH
N=
X=

Persentase Kelimpahan EPT (n EPT/N)



INDEKS BIOTILIK (X/N)













BAB IV
HASIL PEMANTAUAN
Kondisi Sungai Dawir dalam area studi dan parameter biotilik-kimia yang diukur di lapangan hampir sama pada setiap stasiun (Tabel 1). Gangguan yang tampak di lapangan adalah limbah domestik dan organik.
Stasiun
Skor Rata-Rata
Lebar (m)
Kedalaman (cm)
Substrat
Suhu (°C)
pH
Penggunaan Lahan dan Kerapatan Tutupan Sempadan (dalam jarak 200 m)
Gangguan Hidraulik Sungai
kanan1)
kiri1)
DB
2,25
13
400
Pasir, kerikil
31
8,1
·         Jalan
·         Lalu lintas ternak
·         Kebun ternak
·         Jalan
·         Kebun campuran
-
DT
2
13
400
Lumpur, tanah liat
31
8,7
·         Jalan
·         Semak
·         Jalan
·         Ladang
·         Bendung
DK
2,5
13
400
Pasir, kerikil
31
8,2
·         Jalan
·         Tutupan 100%
·         Kebun campuran
·         Tutupan 100%
-
Dari tiga stasiun sampling, terkumpul 295 ekor makroinvertebrata. Dari jumlah tersebut terindetifiksi 32 family makroinvertebrata. Ada tiga family yang selalu dijumpai pada seluruh stasiun, yaitu satu kelompok udang-udangan Atyidae, satu kelompok serangga Leptophlebidae dan satu kelompok kerang-kerangan, yaitu Thiaridae (Mesogastropoda). Kekayaan family setiap stasiun dapat dilihat pada Gambar 1.
Diantara makroinvertebrata yang dijumpai terdapat beberpa family yang masuk ke dalam order Ephemeroptera, Plecoptera dan Trichoptera. Dari jumlah keseluruhan individu sampel, dapat ditentukan persentase relatif jumlah makroinvertebrata yang termasuk ke dalam order EPT terhadap keseluruhan sampel seperti terlihat pada Gambar 2.
Berdasarkan jumlah masing-masing family makroinvertebrata dan nilai toleransi terhadap pencamaran dapat ditentukan Family Biotic Index (FBI). FBI Sungai Dawir untuk setiap stasiun tercantum pada Gambar 3.



BAB V
PEMBAHASAN
Penelitian ini memperlihatkan bahwa kualitas air baik ada di Desa Betak dan Desa Kalidawir, sedangkan kualitas air yang paling rendah ada di Desa Tunggangri. Desa Betak dan Desa Kalidawir memiliki kekayaan family yang tinggi, sedangkan di Desa Tunggangri memiliki 6 family. Peningkatan keanekaragaman biota berkorelasi dengan kesehatan ekosistem. Antara titik pengamatan Desa Betak, Desa Tunggangri sampai Desa Kalidawir, kondisi stasiun, subtrat, parameter biotilik dan kimia air hampir sama. Perbedaannya adalah dari segi gangguan hidraulik dan kerapatan tutupan. Untuk kedua faktor tersebut DK dan DB mewakili kondisi ekosistem yang bagus. Sedangkan DT terdapat pengauh bendungan/dam.
Baik parameter kekayaan taksa maupun EPT sama-sama menunjukkan bahwa DT memiliki kualitas air dan ekosistem yang paling rendah, kondisi air yang kotor dengan ditandai bau dan warna yang berbeda dari biasanya. Pada stasiun DB dan DK, kualitas air cenderung bagus. Dengan terjadinya perubahan faktor kimia dan biologi air, jenis biota air mempunyai daya toleransi yang tinggi akan megalami peningkatan dan penyebaran yang luas. Organisme yang toleran dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran kondisi lingkungan yang kualitasnya buruk. Sebaliknya, jenis biota air yang tidak toleran akan tersebar pada perairan tertentu.



BAB VI
PENUTUP
6.1  KESIMPULAN
Ekosistem Sungai Dawir cenderung terganggu dan kualitas airnya tercemar pada level sedang/menengah dengan kekayaan family makroinvertebrata bervariasi antara 6-32 family dengan rata-rata EPT  dan FBI 2,197. Pada titik di Desa Tunggangri, memiliki kondisi yang terburuk daripada titik lokasi yang lain berdasarkan semua parameter baik bioindikator makroinvertebrata maupun kimia air

6.2  SARAN
Upaya pencegahan pencemaran sungai :
a.         melakukan gerakan kebersihan sungai tercemar secara berkala, membersihan segmen sungai tercemar minimal 2 kali setahun;
b.        pemasangan papan himbauan sepanjang bantaran sungai dan peletakkan tempat sampah;
c.         melakukan normalisasi alur sungai, mengeruk sedimen sungai, mendirikan blok penyaring sampah;
d.        mendirikan demplot peningkatan kualitas air secara vegetatif pada sempadan dan bantaran sungai;
e.         mengevaluasi hasil kegiatan pemantauan serta menganalisis kualitas air sungai dengan baku mutu yang telah ditetapkan.



DAFTAR PUSTAKA
Ecological Observation and Wetland Conservation (ECOTON). 2013. PANDUAN BIOTILIK UNTUK PEMANTAUAN KESEHATAN DAERAH ALIRAN SUNGAI “Selamatkan Sungai Kita Sekarang”. Gresik. ECOTON.
Geocities. 2013. GAMBARAN UMUM KABUPATEN TULUNGAGUNG BERSINAR, KOTA MANDIRI, JAWA TIMUR. (Online). (http://www.geocities.ws/kota_tulungagung/gambaran_umum.htm. jam 20:45 WIB 21/10/2013)
Hasyim, Hisyam. 2012. Tentang Kabupaten Tulungagung. (Online). (http://fh2p3kdok.blogspot.com/2012/12/tentang-kabupaten-tulungagung.html. jam 15:45 WIB 25/10/2013).
Kantor Lingkungan Hidup Kota Mojokerto. 2008. LAPORAN PEMANTAUAN KUALITAS AIR SUNGAI DI KOTA MOJOKETO. Mojokerto. Kantor Lingkungan Hidup Kota Mojokerto.
Lelawaty Simanora, Rotua. dkk. (Kementrian Lingkungan Hidup). 2012. KUALITAS AI SUNGAI BONE (GORONTALO) BERDASARKAN BIOINDIKATOR MAKROINVERTEBRATA. Gorontalo. Kementrian Lingkungan Hidup.
Nasution, Emelia. 2013. Laporan Praktikum: Pengukuran Kualitas Air. (Online). (http://laporanpraktikumemel.blogspot.com/2013/03/pengukuran-kualitas-air.html. Jam 04:59 17/10/2013)
Rahmawati, Wahyu. 2012 Iklim Di Tulungagung. (Online). (http://id.scribd.com/doc/79825581/TA-iklim. jam 04:43 WIB  24/10/2013).
Sains, Insan. 2007. Mengukur Kualitas Air. (Online). (http://insansainsprojects.wordpress.com/2007/11/30/_-mengukur-kualitas-air/. Jam 03:39 WIB 20/10/2013)
Setyo Rini, Daru. dkk. (Biotilik Team). 2009 PANDUAN BIOTILIK Biomonitoring Kesehatan Sungai dengan Makroinvertebrata Bagi Sekolah Tingkat Pertama dan Menengah. Sidoarjo. Biotilik Team.
Sigit, Ridzki. 2013. Biotilik: Memantau Kesehatan Sungai Lewat Cara Sederhana Namun Efektif. (Online). (http://www.mongabay.co.id/2013/05/18/biotilik-memantau-kesehatan-sungai-lewat-cara-sederhana-namun-efektif/. Jam 03:38 20/10/2013)
Smart Marketing. 2013. Indikator (Tanda) Air Tanah Tercemar. (Online). (http://filterpenyaringair.com/indikator-tanda-air-tanah-yang-tercemar/. Jam 14:28 WIB 18/10/2013 )
Yahoo. 2013. Jenis Tanah. (Online). (http://answers.yahoo.com/question/index?qid=20130402143226AAs6a55. Jam 19:55 WIB 28/10/2013).
Yusuf, Tohari. 2013. Karangtalun. (Online). (http://tohariyusuf.blogspot.com/p/karangtalun_4879.html. jam 15:46 WIB 25/10/2013).



LAMPIRAN
Lampiran Data Peserta:
1.      nama                                          : Alif Wibowo;
tempat dan tanggal lahir           : Jember, 04 Februari 1996;
alamat                                       : Ds. Betak, Kec. Kalidawir, Kab. Tulungagung;
sekolah                                      : SMA Negeri 1 Ngunut;
NIS                                           : 7202;
2.      nama                                          : Bagus Syafi’ul Huda;
tempat dan tanggal lahir           : Tulungagung, 12 Desember 1995;
alamat                                       : Ds. Aryojeding, Kec. Rejotangan, Kab. Tulungagung;
sekolah                                      : SMA Negeri 1 Ngunut;
NIS                                           : 7241;
3.      nama                                          : Elinda Triawati;
tempat dan tanggal lahir           : Tulungagung, 22 Januari 1996;
alamat                                       : Ds. Mirigambar, Kec. Sumbergempol, Kab. Tulungagung;
sekolah                                      : SMA Negeri 1 Ngunut;
NIS                                           : 7288.
Lampiran Data Guru Pembimbing:
nama                                          : Dra. Endah Winarni;
tempat dan tanggal lahir           : Tulungagung, 03 Agustus 1963;
NIP                                           : 19630803 198903 2 010.





DENAH PENGAMBILAN SAMPEL DI KECAMATAN KALIDAWIR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar